(SeaPRwire) –
By: Robert Sterling
Dunia akademis sedang mengalami guncangan hebat. Mahasiswa Gen Z datang ke kampus dengan kemampuan membaca yang sangat memprihatinkan. Ini bukan lagi soal kurangnya pemikiran kritis. Banyak dari mereka bahkan kesulitan memproses makna dari satu kalimat sederhana. Para profesor kini terpaksa menurunkan standar pengajaran mereka secara drastis. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sinyal bahaya bagi masa depan intelektual generasi mendatang.
Data menunjukkan penurunan drastis dalam kebiasaan membaca. Hampir separuh warga Amerika tidak membaca satu buku pun sepanjang tahun 2025. Angka ini anjlok 40% dalam satu dekade terakhir. Meskipun ada fenomena BookTok, rata-rata orang berusia 18 hingga 29 tahun hanya membaca 5,8 buku di tahun 2025. Profesor Jessica Hooten Wilson dari Pepperdine University bahkan harus membacakan teks dengan suara keras di kelas. Mahasiswa sering kali gagal memahami isi bacaan meski sudah dibahas bersama.
Timothy O’Malley dari University of Notre Dame melihat pergeseran ini sebagai dampak dari sistem pendidikan yang salah arah. Siswa terbiasa melakukan pemindaian informasi untuk ujian, bukan mendalami teks yang kompleks. Mereka lebih memilih ringkasan berbasis AI daripada membaca materi asli. Sementara itu, profesor lain seperti Brad East mencoba menyesuaikan metode pengajaran untuk merangsang pemikiran kritis. Namun, realitasnya tetap pahit: kemampuan dasar untuk duduk tenang dan memahami teks panjang telah hilang.
Kesenjangan ini akan menciptakan perpecahan sosial yang lebih dalam. Membaca adalah cara untuk memahami perspektif orang lain dan membangun empati. Tanpa kemampuan ini, kita akan terjebak dalam masyarakat yang penuh kecemasan dan kesepian. Para elit dunia, seperti yang terlihat dari survei J.P. Morgan terhadap 100 miliarder, tetap menjadikan membaca sebagai kebiasaan utama mereka. Jika pendidikan tinggi terus melunak, kita hanya akan melahirkan lulusan yang tidak kompetitif di pasar kerja global.
Author bio: Robert Sterling, seorang veteran wirausaha internasional dengan pengalaman puluhan tahun dalam investasi industri riil dan ekspansi pasar global yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia.