AI di Pemasaran: Bisa Jadi Rahasia Sukses atau Cuma Buat Hasil Rata-Rata? Ini Cara Para Pimpinan Bisnis Mengoptimalkannya

(SeaPRwire) –

By: Oliver Hawthorne

Banyak tim pemasaran sekarang menyerahkan tugas kreatif ke AI. Hasilnya campuran. Ada yang berkata AI tak bisa menggantikan konsep orisinal manusia. Ada yang melihat nilai AI dalam tugas repetitif. Ini menjadi kecemasan utama industri: di mana batas antara peran manusia dan AI?

Dan Murphy, kepala pemasaran Liquid Death, mengatakan AI tak bisa melakukan “pikiran nol ke satu”. Ini konsep Peter Thiel tentang menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Liquid Death menggunakan AI secara ekstrim di belakang layar. Karyawan bahkan bercanda bahwa Claude dari Anthropic adalah atasan baru mereka. Tapi untuk ideasi kreatif, mereka bergantung pada tim seniman dan komedian. Anggota tim termasuk mantan penulis The Onion dan Cartoon Network‘s “Adult Swim”. Kolaborasi dengan Spotify menghasilkan urn yang terhubung Bluetooth pertama di dunia. Biayanya sekitar $200 ribu, ditanggung Spotify. Ini mendapatkan 6 miliar impresi media earned, meningkatkan kesadaran dan penjualan. Vishal Sood, presiden R&D Typeface, setuju bahwa AI tak bisa menggantikan selera dan penilaian manusia. Tapi AI unggul dalam tugas repetitif. Misalnya membuat versi baru dari ide yang ada, meresize visual ke ratusan format, atau mempersonalisasi email. Salah satu kliennya meningkatkan CTR email sebesar 2 persen, tiga kali lipat dari sebelumnya. Stacy Simpson, CMO athenahealth, menggunakan AI untuk operasional tapi tidak untuk ideasi kreatif. Caitlin Allen dari Simbe Robotics mengatakan AI harus otomatisasi “pendengaran berulang”. Ini untuk mengetahui apa yang diinginkan audiens. Ben Gammell dari Brex melihat AI sebagai akselerator untuk karyawan, bukan alasan memotong jabatan.

Perbedaan hasil yang luar biasa ketika dua orang menggunakan model AI yang sama, kata Simpson. Ini kembali pada penilaian yang baik, konteks yang tepat, dan keterampilan manusia. Loop komersial yang sukses akan dimiliki oleh perusahaan yang bisa membedakan tugas yang tak bisa digantikan manusia dan yang bisa didelegasikan ke AI. Mereka akan menggunakan AI untuk menghemat waktu pada tugas repetitif. Sementara manusia fokus pada ideasi yang unik dan resonan dengan audiens. Akhirnya, AI bukan pengganti manusia, tapi alat yang memperkuat kemampuan mereka—asalkan perusahaan tahu di mana “rahasia sukses” mereka berada.

Author bio: Oliver Hawthorne, korresponden utama yang bertugas permanen di majalah teknologi internasional, fokus pada analisis AI dan strategi bisnis.